Cerdas! Pakar Dari Kuwait Ini Membeberkan Rahasia “Cara Menghukum Anak” Tanpa Menyiksa (Efeknya Membuat Anak Makin Pintar & Mandiri)

532 views

CARA CERDAS MENGHUKUM ANAK

Oleh: Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa’ (Pakar Parenting dari Kuwait)

Seorang ibu berkata: “Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 9 tahun dan yang kedua 6 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman (iqob) tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?”.

Saya berkata: “Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?

Ibu tersebut menjawab: “Saya tidak paham, bagaimana itu?”

Saya jawab: “Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif”.

Sebelum menerapkan metode ini kita harus memastikan, apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja), jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.

Tetapi jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan( balas dendam) dan jangan memukul.

Kita juga bisa menggunakan Metode Memilih Hukuman

Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari.

Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya

Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.

Ibu ini menyela: “Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!”

Saya katakan: “Kita harus membedakan antara ta’dib (mendidik) dengan ta’dzib (menyiksa)!”.

Tujuan ta’dib adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran, pengawasan (mutaba’ah), dialog dan nasehat yang terus-menerus.

Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini ta’dzib bukan ta’dib; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.

Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu. sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan (ta’dib) untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.

Si Ibu berkata: “Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba”.

Saya bilang: “Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya”.

Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga ikatan cinta orang tua dengan anak.

Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.

Siapa yang merenungkan metode ta’dib Rasululllah shallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta’dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.

Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk madinah, niscaya mencukupi”.

Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses ta’dib

Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah sebulan. Dia bertutur: ” Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?”

Saya jawab: “Saya ambil dari metode Al-Qur’an dalam mendidik (ta’dib).

Allah _subhanahu wata’ala_memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah”.

Ibu berkata: “Jadi ini metode pendidikan Al-Qur’an?”

Saya jawab: “Betul, sesungguhnya Al-Qur’an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya ‘metode memilih hukuman’ yang telah dijelaskan”.

Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.

Diterjemahkan oleh:
Ust. Achmad Fadhail Husni, Lc.
Pusat Peradaban ISLAM
Jl. Gayungsari I/89 Surabaya
====

Ayah Bunda Renungkanlah; yang Namanya Ngajari Anak Disiplin Itu Bukan Selalu Menghukum Anak

Setiap orang tua selalu ingin menerapkan kedisiplinan pada anak sejak dini. Ya, memang disiplin ini, kata para pakar, adalah kunci untuk menjalani hidup sukses. Namun ternyata banyak orang tua yang salah mengartikan disiplin.

Dikiranya disiplin adalah menghukum anak. Padahal tidak!

Kata Sarra Risman, pakar parenting, disiplin itu artinya membantu anak anda menyelesaikan masalahnya, sedangkan hukuman adalah cara membuat anak merasakan akibat dari kepemilikan masalah.

Setiap orang tentu punya masalah, dan menurut Sarra Risman, yang seharusnya kita lakukan adalah membesarkan anak yang bisa menyelesaikan masalah. Dan hal tersebut hanya bisa didapatkan dari mengajarkan mereka untuk fokus pada masalah tersebut. Bukan sibuk mengkhawatirkan “membayar” akibat dari punya masalah itu.

Maksudnya, anak seharusnya tidak diajarkan untuk takut dihukum, tapi displin adalah cara agar anak mampu menyelesaikan masalahnya.

Itu mengapa ketika mereka punya masalah, lanjut Sarra Risman, mereka cenderung mencari siapa yang bisa di salahkan, bukan apa yang salah dan membetulkannya. Ketrampilan memecahkan masalah tidak dimiliki scara otomatis dg lahirnya seorang manusia. Ia harus di ajar oleh orang dewasa yg cerdas, yang berperan sebagai pengasuh utama, dan di latih setiap masalah muncul. Sampai ia bisa dengan sendiri menyelesaikannya.

Mengembangkan batas dan aturan agar anak disiplin sejak dini itu perlu

Orang tua sebaiknya tidak berpikir bahwa displin hanya bisa diterapkan saat anak remaja atau dewasa. Tidak. Justru sejak usia dini, kira-kira 1-2 tahun atau masa toodler, anak sudah bisa dilatih dan diajarkan untuk berdisplin.

Pada masa toodler ini anak sedang ingin mencoba sejauh mana ia bisa menguasai, mengatur dan memanipulasi lingkungan sekitarnya. Ia sedang belajar untuk bertindak “sesuka hati.” Nah, jika anak tidak diberi batasan dan aturan, maka ia akan belajar melepas keinginan sesuka hati.

Kata pakar parenting, anak perlu tahu, ada batasan yang tidak boleh ia lewati, ada aturan yang harus ia ikuti. Ini juga nanti akan berdampak ketika anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Dengan adanya aturan, anak juga akan merasakan adanya kepastian, dan ini akan memberikan rasa aman dan nyaman.

Orang tua bisa memulai dengan menerapkan aturan di rumah. Misalnya saja “tidak boleh memukul” atau “tidak boleh naik ke meja.” Dan terapkan aturan itu dengan konsisten, ajarkan pada anak anak bahwa dipukul itu sakit, dan agar ia tidak merasakan sakit maka terapkan aturan untuk tidak memukul.

Tegaslah pada anak. Dengan memberikan ketegasan yang positif. Cara ini seringkali lebih efektif daripada memberikan hukuman terhadap perilaku negatif anak.

Anak sebenarnya sedang berusaha ‘mendata’ mana saja dari perilakunya yang mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, berikan perhatian berupa pujian ketika anak melakukan sesuatu positif, maka kelak perilaku ini juga akan cenderung diulang anak karena dia tahu orang tuanya akan memberikan perhatian padanya.

Berikan contoh, karena anak adalah peniru orang tuanya

Orang tua adalah yang paling anak temui dan amati setiap hari. Itulah alasan mengapa perilaku anak itu tidak pernah jauh dari orang tuanya.

Dan hal itu adalah cara yang paling mudah untuk mengajarkan anak agar disiplin. Tidak semata menghukum anak apabila mereka membuat kesalahan. Dengan mendidik anak untuk disiplin, akan membiasakannya untuk hidup dengan bekerja keras. Hal tersebutlah yang akan mereka hadapi nanti. Jangan buai mereka dengan kemudahan-kemudahan karena hal itu hanya akan membuat mereka cengeng dan tidak tangguh.

===

Ayah Bunda, Mulai Sekarang Tinggalkan Bahasa Keras dan Memerintah dalam Mendidik Anak

Dear Ayah Bunda,

Cara-cara mendidik anak dengan bahasa kekerasan, memerintah dan memaksa harus ditinggalkan. Orangtua dituntut untuk melakukan pendekatan yang ramah agar disiplin pada anak tumbuh karena kesadaran dan bukan karena keterpaksaan.

Hal itu diungkapkan konselor sekaligus Parental Coach, Elliyati Bahri dalam Seminar Pendidikan Keluarga di Kabupaten Semarang beberapa waktu lalu.

Menurut Elli, anak adalah calon pemimpin masa depan. Karena itu mendidik anak harus menggunakan pendekatan yang ramah otak, dengan bahasa yang lebih persuasif. Misalnya saat orang tua menyuruh anak untuk shalat. Biasanya orangtua menggunakan kalimat perintah, “ayo shalat!”.

Cara komunikasi dengan cara berteriak atau memerintah dengan suara melengking, akan membuat anak merasa tergores harga dirinya. Orangtua bisa menggunakan kalimat yang lebih ramah, seperti, “Nak, kamu Shalatnya mau setelah main sepeda atau ngerjain PR?. “Sehingga apapun jawaban sang anak akan setuju,” ujar Elli yang juga pakar Neuro Linguistic Programming (NLP) ini.

Contoh lainnya, lanjutnya, saat harus memerintah anak untuk mengerjakan PR. Orangtua bisa melakukannya dengan bahasa yang lebih persuasif seperti ‘”Kalau PR-nya sudah dikerjakan, ibu mau bikinkan minuman coklat atau jus?”.

Cara-cara persuasif tersebut, imbuhnya, akan menyibukkan pikiran sadar anak dengan pilihan yang ditawarkan. Sementara sugesti perintahnya agar sang anak mau mengerjakan PR yang menjadi kewajibannya.

Komunikasi adalah kunci dari pendidikan anak. Inilah yang harus didorong agar dilakukan para ibu di Indonesia.
Sebab, anak yang mengalami kekerasan secara verbal, seperti sering dibanding- bandingkan, di-bully, serta memberi label, dapat menimbulkan kecenderungan jiwanya akan kerdil.

Pada tahun 2025 mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Di mana negara akan memliki ledakan penduduk usia produktif yang luar biasa. Pada kondisi ini, diharapkan jangan sampai terjadi karena anak-anak yang gagal dalam pertumbuhan emosionalnya, karena anak merupakan masa depan bangsa.

“Maka orang tua harus sadar, ini merupakan aset bangsa dan tidak akan pernah terulang kembali bagi kita. Tinggal kita sendiri sadar atau tidak untuk memanfaatkan atau hanya sekedar melewatkan momentum ini,”tegasnya.

Elli menambahkan, hanya dengan kelembutan, kasih sayang dan hanya dengan cinta, anak- anak akan menurut dan patuh pada orangtua, karena kesadarannya yang tumbuh dan bukan karena keterpaksaan.
====

Tips Untuk Menghadapi Anak Yang Ngeyel. Coba deh Lakukan Hal Ini, Semoga Anak Gak Ngeyel Lagi..

Ustadzah Yanti Tanjung

Setiap ibu seringkali melakukan tawar menawar dengan anak tentang keinginan-keinginannya, misal keinginan untuk bermain bersama teman-temannya, keinginan untuk dibelikan gadget, keinginan untuk jajan, keinginan untuk mengikuti acara study tour dll. Yang notabene ibu belum ridha untuk memenuhinya.

Terkadang ibu dihadapkan pada keras kepalanya anak, memaksa agar keinginanya tersebut dapat dipenuhi kalau tidak ngambek dan bete, menutup diri dari komunikasi dan menyendiri di kamar. Anak shaleh biasanya tidak mempersoalkan jika sang ibu belum ridha, dia akan berlapang dada.

Ini seringkali terjadi pada anak usia remaja, dimana dia mulai melepaskan diri dari bayang-bayang ayah bundanya, mempunyai pendapat sendiri dan tidak mau didikte, sudah merasa bahwa keputusannya adalah tanggung jawab dia sendiri. Padahal usia ini belum bisa dikatakan dewasa artinya walau dia menjelang baligh atau sudah baligh sejatinya kepribadian Islamnya belumlah matang, masih membutuhkan pendampingan.

Curhatan seorang ibu tentang anak gadisnya berusia belasan tahun itu suka sekali celetuk-celetukan yang membuat jengkel, trus seringkali melanggar aturan-aturan yang sudah dipahamkan.

Misalnya di depan ibu sang anak terlihat berpakaian sempurna dengan jilbab dan kerudung, tapi ketika ke luar rumah sang anak mengganti kostumnya meminjam celana jeans temannya.

Hati ibu siapa yang tidak sedih dan kesal pastilah emosi meluap-luap saat menyaksikan perilaku anak yang tidak sesuai harapan.

Berkali-kali mungkin sudah diingatkan, mulai kata-kata lembut hingga kemarahan yang memuncak sudah terjadi, anak tak kunjung berubah juga, akhirnya ibu mati gaya, merasa capek dan lelah diuji tentang anak.

Bagaimana seharusnya kita berhadapan dengan masalah ini? Tentu tidak fokus pada kesalahan-kesalahan anak tersebut, sebab ibu akan selalu emosional bila kesalahan2 itu selalu berada di pelupuk mata. Tapi sesaat coba dipinggirkan dulu dan fokuslah pada potensi akal dan naluriyyah anak.

Coba muhasabah sejenak sudah seberapa bergizi makanan akal anak dg tsaqafah Islam, sudah seberapa penempaan nafsiyyah anak di rumah. Jika ternyata masih sangat sedikit maka salahkanlah diri kita yang lalai dan abai.

Membangun komunikasi yang menyenangkan juga sangatlah penting, jika kita bawaannya hanya marah maka anak akan menjauh tidak mau bicara karena rumah serasa bak neraka. Beberapa waktu bicaralah tentang perkara-perkara mendasar tentang makna kehidupan, tentang posisi manusia di muka bumi, tentang kelak manusia akan kembali pada Allah tentang pertanggungjawaban.

Komunikasi rasa aqidah ini sangatlah solutif walau berproses dan bersabar, tapi insya Allah lebih bertahan lama dan membuat anak istiqomah.

Jika dalam diri anak tertanam aqidah, maka tips ini bisa dilakukan. Jika anak tetap melakukan pembangkangannya sampaikan padanya dengan lembut. ” Nak, jika tetap tidak mau menuruti nasehat bunda, jika kakak sudah tidak taat lagi pada Allah, saksikanlah bahwa bunda sudah menyampaikan hukum-hukum Allah pada kakak dan sudah menasehati kakak dalam agama, kelak jangan tuntut bunda di akhirat karena bunda tidak akan sanggup berhadapan dg kakak di yaumil hisab.”

Semoga setelah itu ada kata-kata yang menghunjam dalam benaknya dan dalam naluri beragamanya….

Wallahu a’lam bishshowab

====

Menjadi Ibu Memang Melelahkan, Agar Tetap Bahagia Lakukan 6 Tips Ini..

Dear Ayah Bunda,

Mengemban tanggung jawab sebagai orang tua yang harus mengasuh anak sepanjang waktu kadang bisa menimbulkan rasa stress tersendiri. Lebih-lebih jika si kecil sudah masuk usia sekolah TK dan Anda memutuskan untuk mengasuhnya Anda secara mandiri tanpa menggunakan jasa baby sitter.

Segala hal yang menjadi kebutuhan sekolah si kecil termasuk menyiapkan kebutuhan sekolah seperti buku, tempat pensil dan sebagainya, menyiapkan seragam sampai menyiapkan bekal makan siang harus Anda tangani sendiri. Dan, semua kerepotan ini belum termasuk jika Anda harus membujuk si kecil yang rewel tidak ingin pergi ke sekolah.

Ketika menghadapi kondisi yang super sibuk seperti ini, wajar ketika pada satu titik kita merasa stress karena kelelahan. Tapi, Bunda tidak perlu berlama-lama tenggelam dalam stress, sebab tips berikut akan membuat Anda tetap bahagia dalam mengasuh si kecil walau tubuh kelelahan.

1. Menyusun rencana apa yang akan Anda lakukan hari ini, besok dan seterusnya bersama si kecil akan membuat tugas mengasuh Anda menjadi lebih ringan dan tentunya bisa membuat Anda jauh dari stress karena kebingungan menyiasati aktivitas untuk si kecil.

So, jika Anda memiliki sedikit waktu luang di sela-sela kegiatan mengasuh si kecil, Anda bisa menyiapkan rencana awal apa yang akan Anda lakukan bersama si kecil untuk besok dan seterusnya.

2. Siapkan “Me Time”

Terlalu sibuk mengasuh dan mengurusi segala kebutuhan si kecil kadang membuat kita lupa tentang kebutuhan kita sendiri. Jangan, ya! Meskipun kita sibuk merawat dan mengasuh si kecil, kita juga harus tetap menyediakan waktu untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri agar kegiatan mengasuh anak ini tidak menjadi terlalu stressful untuk kita.

3. Sediakanlah setidaknya satu jam dalam sehari untuk menikmati waktu-waktu santai untuk diri sendiri. Anda bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang Anda sukai, misal menyulam, membaca buku, bahkan shopping!

4. Ajak Suami Terlibat dengan Tugas Mengasuh Si Kecil

Jika suami bekerja di luar rumah sepanjang weekdays, mintalah bantuan suami untuk berbagi tugas mengasuh si kecil saat weekends. Seperti dilansir dalam laman www.wikihow.com, dengan membagi tugas mengasuh dengan suami, rasa lelah Anda bisa berkurang separuhnya.

Anda juga bisa meminta suami untuk berlibur sambil mengasuh si kecil bersama-sama. Pasti menyenangkan!

5. Tidur Cukup

Jika kesibukan mengasuh si kecil tidak memungkinkan Anda untuk mendapatkan tidur 8 jam sehari, setidaknya biarkanlah tubuh Anda mendapatkan tidur yang cukup. Sebab, tidur yang cukup akan membuat tubuh Anda menjadi lebih fresh dan Anda bisa lebih berenergi saat menemani si kecil bermain.

Untuk melakukannya, Anda perlu menyusun jadwal tidur untuk si kecil dan Anda sendiri. Dan, usahakanlah untuk disiplin dengan jadwal yang sudah Anda susun sendiri.

6. Play Date

Mengasuh anak akan sangat melelahkan jika dilakukan sendirian sepanjang waktu. Oleh sebab itu, cobalah untuk mengajak saudara atau teman Anda yang sama-sama memiliki anak untuk melakukan play-dates.

Sementara si kecil bersenang-senang menikmati waktu bermain dengan saudara atau teman-teman barunya, Anda juga bisa menikmati waktu Anda dengan sharing dan berbagi tips dengan saudara dan teman Anda. Dijamin, stress pasti hilang!

SHARE Biar Banyak Orang Tua Yang Teredukasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *