Orang Tua Wajib Baca! Putrinya Selalu Hanya Rangking 23, Sang Ayah Terkejut Menangis Saat Menyadari Penyebabnya, Bikin Terharu Full

49 views

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun ternyata anak kami menerimanya dengan senang hati.

Istriku mengeluh ke padaku, bahwa Ia hanya bisa menjadi pendengar saja setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya.

Teman temannya selalu bercerita aktifitas, pencapaian nilai, kemampuan menonjol bahkan keahlian khusus anak anak mereka.

Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali istriku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Pada liburan kenaikan kelas, semua sanak keluarga berkumpul merayakannya di satu ruangan besar di sebuah restoran Favorit keluarga. Kami semua bersendagurau bertukar cerita dalam kegembiraan, perlahan lahan Topik pembicaraan mulai beralih kepada anak masing-masing.

Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan salah seorang anak perempuan berusia 4½ tahun saja berani menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk sekali membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh:

“Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main”.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya.

Dia menjawab dengan besar hati:

“Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”

Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka Istriku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, isteriku mengeluh ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK ?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami datangkan guru les pribadi dan memasukkan di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.

Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak kuat bertahan lagi dan terserang flu berat. Bahkan saat sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, rangkingnya tetap 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah mengejutkan kami, menjadi rangking ke- 33. Aku dan istriku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada suatu akhir minggu, kantorku mengadakan rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan bekal lauk pauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta istri dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah istriku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.

Dalam ujian pelajaran bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu :

“SIAPAKAH TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI, dan ALASANNYA ?”

Ternyata semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku, tidak ada satupun yg lain.

Alasannya pun sangat beragam : Antusias Membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah Optimis dan Humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher wool malah menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan :

“ Ayah, aku tidak mau jadi Pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”
Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil terus merajut Selendang benang wolnya,

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.
Hatiku tergugah oleh anak perempuan ku yang tidak ingin menjadi pahlawan, tidak ingin menjadi orang hebat, atau orang terkenal. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak ‘terlihat’. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi dialah yang mengokohkan, dialah yang memberi makan dan dialah yang memelihara kehidupan yang lain.

※※※※※※※※※

Bunda……,
Hidup itu bukan semata-mata untuk menunjukan siapa yang paling penting,
siapa yang paling berperan, atau siapa yang paling hebat.
Tapi sederhana saja, siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *