Terkuak, Inilah Alasannya Kenapa Senyum TKW Itu Tak Bisa Dicerna Logika (Kamu Akan Paham Setelah Baca Ini)

Oh inikah negeriku, dimana tongkat saja yang kita lempar bisa menjadi tanaman yang tumbuh subur. Kekayaan alam yang demikian melimpahnya seolah tak pernah habis. Kesuburan bumi pertiwi telah tersohor dimana-mana.

Ah kamu, iya kamu yang sedari tadi termangu! Menahan geram, menahan bisa dan luka dalam dada. Kamu kapan tewasnya? Masih mau menguras tulang di negeri orang?

Kita Indonesia. Kita Merah putih. Kita Nasionalis. Kita Religius. Kita bangsa yang besar yang tak mungkin dikalahkan oleh penjajah.

Ah Sudahlah, itu ternyata hanya kalimat di spanduk pinggir jalan yang mulai usang, terkoyak dasarnya. Marilah bangun, jangan bermimpi terus, Indonesia memang kaya tapi kekayaannya untuk siapa? Untuk bangsa sendirikah? Atau segelintir bos-bos penghisap darah? Bahkan mungkin isu yang selama ini kita sudah bosen mendengarnya, SDA kita yang sebagian besar dinikmati perusahaan-perusahaan asing.

Indonesia itu kaya Bung! Kau jangan bilang kita ini miskin. Buktinya banyak pekerja asing yang jauh-jauh datang ke Indonesia untuk bekerja di berbagai bidang yang ada. Nyaris ya! Dikata orang Indonesia itu bodoh-bodoh semua, sehingga kalah bersaing dengan pekerja asing. Lha, terus apa gunanya pemimpin yang kami pilih selama ini? Bukankah mereka juga berkewajiban MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA??

Ironi semacam ini terus berlanjut. Dan akhirnya aku benar-benar membangunkan diriku dari ranjang lusuh dimana selama ini aku senantiasa merangkai rajutan asa dan mimpi yang meninggi. Menyibak selimut yang baunya sudah mengaspal. Menebas jalan desa, menyusuri jeritan-jeritan anak sawah, menguras sungai dengan kedua belah pengharapan, hingga sampailah di negeri orang, negeri asing yang selama ini kami pikir ada tumpukan emas disana.

Kami takut? Jangan kau kata pertanyaan bodohmu itu bisa membuat perih hati, karena meninggalkan ibu pertiwi sudah cukup membuat nestapa yang terkadang makin “nganga”. Cerita-cerita sakti di TV tentang BMI (TKI/TKW) yang tewas, yang diperkos4, yang dianiaya setiap harinya, yang g1la, dihukum mati dan cerita-cerita seram lainnya sudah kenyang kami santap setiap hari.

Kamu kira mata kami mati? Kami mendengar semua isu itu dengan lantang. Yaps, tak ada pilihan lain, karena kami tetap berharap bisa seperti Sri yang hidupnya lebih baik ketika bekerja di Hongkong, ada pula Tukinem TKW di Taiwan yang saat ini keluarganya dikampung sudah bisa membeli 4 sawah baru, beda pula cerita yang kami dengar tentang TKW Arab yang diantar majikannya pulang hingga sang majikan menangis (saking sayangnya) tak rela berpisah dengan sang pembantu.

Itulah yang selalu kami panjatkan dalam doa sebelum berangkat ke negeri orang. Agar kami mendapatkan tempat kerja yang membuat kami masih terasa seperti manusia. Agar kami menemukan majikan yang senantiasa tak merenggut masa depan yang kami khayalkan. Agar anak-anak kami dikampung bisa terus melanjutkan sekolahnya.

TKW Itu Semuanya Terluka

Luka pertama yang kami rasakan adalah berpisah dengan keluarga tercinta. Luka selanjutnya senantiasa berbeda-beda. Jika detailnya kami ceritakan apakah hal itu akan merubah pandanganmu pada kami? Cara kami mengobatinya juga sederhana, mendengar kabar bahagia keluarga dikampung adalah penyembuh yang sempurna.

Jangan Pula Kau Hakimi Senyum Kami, Karena Hanya HATI Yang Mampu Mencernanya

Tahukah Engkau sang Raja, kami tersenyum di dunia maya, di akun-akun sosial media yang kami punya, itu banyak palsunya. Dibalik senyum selfie kami senantiasa mengandung beban, tumpukan stres karena pekerjaan. Selingan semacam itu terasa nampak indah, meskipun sesudahnya kami kembali bertempur dengan bekal seadanya.

Tahukah Engkau sang Raja, di sosial media kami, terkadang kami nampak sumringah sedang berjalan-jalan menikmati akhir pekan bersama teman-teman. Padahal itu adalah kumpulan manusia terluka yang sedang menyembuhkan diri dengan cara tak biasa. Sejatinya, kehidupan kami keras disebabkan aturan kerja yang killer dari majikan.

Tahukah Engkau sang Raja, jadi TKW itu bukanlah mimpi kami sewaktu kecil, banting tulang di negeri orang.

Bahkan tak lagi aneh ketika kami membiayai hidup suami yang tiap bulan selalu bilang, ‘Mah, udah kirim belum?’…. dan kalaupun jumlah kirimannya tidak sama, suami selalu menanyakan dengan serius.

Tahukah Engkau sang Raja, kalau kami itu manusia biasa, manusia yang senantiasa rindu anak-anaknya dan sanak famili tercinta. Rindu kampung halaman yang sudah berkarat dimakan lalat. Kami yang senantiasa membayangkan wajah-wajah yang berharap penuh atas usaha kami disini.

Tahukah Engkau sang Raja, adalah makanan sehari-hari jika dimarahi majikan lantaran kerja belum maksimal. Bahkan tengah malam harus bangun disaat orang terlelap tidur karena tuntutan pekerjaan.

Sekiranya kalian paham. Letihnya dinegeri orang berbeda dengan letihnya di negeri sendiri. Ketika penat dari sawah, ada wajah anak-anak yang mendamaikan, sedangkan disini, ketika kami letih, bukan tak mungkin omelan majikan yang menjadi bumbu penyedapnya. Atau hanya atap-atap plafon yang bisu yang makin mengiris hati.

Masih Kau Bilang Kami Ini Manusia “BIASA”? Ya… ya… ya… Kami jelas manusia biasa, namun tenaga dan pikiran kami tak mungkin di setting menjadi biasa, sebab kami akan mati jika hidup dengan pola biasa. Kami mesti…. dan mau tak mau harus menjadi 10 kali lebih kuat dan 10 kali lebih sabar dari selayaknya Kami yang “BIASA” ini.

Tahukah Engkau sang Raja, kami sudah biasa mendapat getahnya. Kami acapkali di bilang manusia murahan, jual ini, jual itu, jual diri. Padahal itu hanya segelintir orang yang tak kuat imannya. Namun kami terkena imbas semuanya. Semua itu kami telan dengan segenap diam dan tak melawan. Lagi-lagi kami tak melakukan perlawanan. Bukan Enggan apalagi takut….. Namun itu semua kebanyakan sia-sia!

Jika pun ini dunia nyata. Istrimu adalah tulang rusukmu wahai suami….. Mau dibalik bagaimanapun, kodratnya suamilah yang secara alami menjadi tulang punggung. Menafkahi bukanlah tugas utama istri. Engkaulah yang seharusnya menafkahi kami….

Penaku sempat terdiam, sebelum pada akhirnya luluh lantak mendengar doa Ustadz Abdul Somad dibawah ini

Ya Allah…kepada Engkau kami bertawakal
Kepada Engkau kami berserah diri
Kepada Engkau kami semua akan kembali
Ya Allah…Ya Allah…ini adalah saudari-saudariku, hamba-hambaMu Ya Allah
Mereka berjuang di tempat yang sangat jauh hanya untuk mencari nafkah…hanya untuk mencari makan yang sebenarnya makanan mereka

cukup di negeri mereka…

Negeri ini gemah ripah loh jinawi
Negeri ini untaian zamrud khatulistiwa
Tapi rasanya terlalu banyak yang dipersalahkan

Terlalu banyak yang mencaci-maki
Sudah terlalu banyak yang mencaci
Mengapa gelap? Saudari-saudariku meninggalkan kampung halamannya
hanya untuk makan ya Allah
Hanya untuk mengais rezeki yang Engkau tebarkan setiap pagi

Murahkan rezeki mereka Ya Allah
Sehatkan mereka Ya Allah
Jaga hati mereka Ya Allah
Jangan sampai mereka berputus asa dari rahmatMu Ya Allah
Ketika mereka rindu kepada anak-anak mereka, keluarga mereka, kuatkan mereka dalam La ila ha illallah

Wahai Engkau Yang Maha Kuat
Wahai Engkau Yang Maha Perkasa
Tolong saudara-saudaraku Ya Allah
Mereka adalah hamba-hambaMu Ya Allah
Kalau rezeki mereka di langit, turunkan rezeki mereka Ya Allah

Berikan mereka ketenangan batin
Jangan sampai mereka terperosok dalam perbuatan dosa
Andai mereka pernah silaf..andai mereka pernah khilaf di masa lalu, maka ampunkanlah segala silaf dan khilaf mereka Ya Allah

Sehatkan anak-anak mereka
Jadikan anak-anak mereka para penghafal Qur’an
Jadikan anak-anak mereka yang sholeh dan sholehah

Setelah mereka cukup modal untuk pulang berusaha, bukakan hati mereka untuk pulang ke Tanah Air

Jauhkan mereka dari sifat boros
Jauhkan mereka dari foya-foya
Jauhkan mereka dari memperturutkan hawa nafsu Ya Allah
Kekanglah hawa nafsu mereka

Setelah mereka kembali ke Tanah Air, bukakan pintu-pintu rezeki mereka sehingga mereka bisa berusaha, membeli tanah, berdagang, berniaga,

beternak agar mereka terhindar dari riba Ya Allah

Sampai pada akhirnya kami akan mati menghadapMu

Andai kami mati, matikan kami ke dalam husnul khotimah
Ampunkan dosa kami Ya Allah
Kedua orang tua kami, guru-guru kami
Orang-orang tua kami menunggu kami di kampung halamannya mengharapkan rezeki dari gaji mereka.

Sehatkan orang-orang tua kami Ya Allah
Sehatkan mereka Ya Allah

Mereka berada di tempat yang banyak tempat maksiat, banyak dosa. Kuatkan hati mereka Ya Allah

Terangi cahaya hati mereka
Satukan kami dan mereka dalam surgamu bersama Nabi Muhammad saw
Jadikanlah akhir kalam kami ketika ajal kami sampai yang terakhir keluar dari mulut dan lidah kami adalah La Ila ha Illallah
==

Tak terasa linangan air mata membanjir, susah sekali membendungnya. Ditengah gersang hati, terkadang doa seperti ini adalah sebuah pengikat untuk kembali lurus dengan niat awal kami berangkat, mengadu nasib di negeri orang. Entah perih dan luka ini, sampai kapan sembuhnya.

Sekali lagi, jangan kau baca senyum kami dengan logika. Jika engkau masih punya hati, gunakanlah untuk berdoa. Siapa tau diantara doa-doa kalian ada perantara kami untuk berjaya di negeri sendiri. Sehingga tak lagi mengais rejeki di negeri orang. Aamiin….

(Sebuah kisah, Suara Ilusi Senyum BMI)

Tulisan ini di dedikasikan untuk semua Buruh Migran Indonesia (TKI/TKW) dimanapun berada. Semoga tetap semangat mencari emas di negeri orang. Dan ketika kembali ke bumi pertiwi yang tercinta, bisa memberi sebuah makna yang menggetarkan banyak jiwa.